Dengan tulus, saya mohon maaf atas kesalahan-kesalahan saya

Dengan tulus, saya mohon maaf atas kesalahan-kesalahan saya

Kamis, 02 Desember 2010

Lomba Minum Susu




Melihat ‘kecepatan’ Affiq minum susu selama ini, saya jadi punya niat mengikutkannya lomba minum susu. Akhirnya kesempatan itu datang juga. Suatu sore saat saya dan suami berbelanja di pasar swalayan dalam sebuah plaza yang baru buka, kami melihat pengumuman lomba minum susu dengan syarat-syarat yang sangat mudah: hanya perlu menyertakan bukti berupa struk belanja di pasar swalayan tersebut dan tanpa dipungut biaya apapun kami sudah berhak memperoleh satu nomor peserta. Semua peserta lomba malah dijanjikan mendapatkan hadiah dari beberapa sponsor, dengan sponsor utama salah satu produk susu anak-anak terkenal.

Esok harinya kami bertiga berboncengan naik motor ke plaza itu. Tidak disangka ternyata jumlah peserta lomba hampir mencapai bilangan 500 anak yang kesemuanya dibagi dalam 2 kelompok usia: A(4–6 tahun) dan B(7–10 tahun). Affiq masuk dalam kelompok A dan ia mendapatkan nomor dada 33. Panitia terlihat berusaha menyelenggarakan lomba sebaik mungkin. Sayangnya karena pekerjaan mereka tidak terkoordinasi dengan baik, durasi waktu lomba berlangsung sangat panjang karena semua teknis acara berlangsung ‘seri’, padahal sebenarnya banyak kegiatan yang bisa dilaksanakan secara ‘paralel’ dengan pembagian tugas yang baik.

Cukup lama juga menunggu giliran Affiq. Saya berusaha menjaga perasaannya, jangan sampai ia bosan dan merajuk. Saya berusaha mengkomunikasikan aturan lomba padanya sebaik mungkin. Beberapa ibu belum apa-apa sudah sedemikian menekan anak-anak mereka. Seolah-olah ini olimpiade sains internasional. Atrium mungil berisi beberapa peralatan dan mesin permainan anak di lantai dasar plaza terasa pengap, sesak oleh ratusan orang. Adapeserta yang bahkan diantar oleh ibu dan 4 saudaranya!

Di babak penyisihan pertama Affiq berlomba dengan 9 anak lain. Ia berhasil menghabiskan 3 cup mungil susu dengan baik. Walaupun bukan ia yang tercepat, namun karena ia minum tanpa meninggalkan ceceran noda di atas meja, ia berhasil memenangkan tahapan itu. Senyum bangganya terkulum saat saya memujinya. Di babak penyisihan kedua, Affiq mulai terlihat jenuh. Hiruk-pikuk seliweran orang membuat saya lupa mengulangi penjelasan detil aturan lomba pada Affiq. Affiq mulai gugup memperhatikan 2 cup di depannya yang digeser ke sana ke mari oleh panitia saat mengatur meja. Cup pertama ia minum dengan hati-hati namun ia bingung dan makin gugup saat hendak memegang cup ke-2 apalagi saat teriakan instruksi terdengar dari mana-mana. Alhasil ia kalah. Dan tangisnya pun pecah seolah memecah beban pikirannya. “Saya tidak mau kalah!”, teriaknya beberapa kali. Kami menenangkannya di luar plaza. Kami tunjukkan walau kalah kami tetap sayang padanya. Akhirnya senyum cerianya tampak saat menyantap ayam gorengkegemarannya di restoran di sudut plaza.

Saya percaya Affiq belajar banyak hari itu, bahwa walaupun ambisi diperlukan namun sportifitas harus diutamakan dan di atas segalanya, kami tetap menyayanginya tanpa peduli ia menang atau kalah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silakan tinggalkan komentar ya. Komentar Anda akan sangat berarti bagi saya. Tapi komen yang kasar dan spam akan saya hapus ya ^__^

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...