Kamis, 17 April 2014

Koq Takut?

Dulu saya pikir, anak-anak itu menjadi penakut karena kita mengajarkannya menjadi penakut. Misalnya banyak orang yang suka menakut-nakuti anak-anak mereka dengan "Awas, ada setan!" atau menakut-nakuti mereka dengan figur orang dewasa lain yang penampilannya menyeramkan bagi anak-anak, dan lain-lain.

Saya dan suami tak pernah mengajarkan anak
-anak kami menjadi penakut dengan menakut-nakuti mereka. Affiq minta pisah kamar di usia 6 tahun dan ia tak pernah minta ditemani pada malam hari dengan alasan “takut”. Berbeda dengan seorang kerabat yang usianya hanya lebih tua setahun dari Affiq. Dengan badan yang tinggi besar karena suka bermain bola, ia masih saja “takut dengan setan”. Bagaimana tidak, dalam lingkungannya, orang-orang dewasa terbiasa menakut-nakuti anak-anak supaya patuh.

Yang mengherankan si tengah Athifah, koq dia penakut sekali? Sedikit-sedikit takut. Kalau mau ke ruang makan pada malam hari, takut, minta ditemani. Ke kamar mandi juga takut katanya. 

Rabu, 16 April 2014

Awasi WC Sekolah, Stop Kekerasan Pada Anak!

Perhatian Indonesia sedang mengarah kepada sebuah taman kanak-kanak internasional yang seorang siswanya mengalami pelecehan seksual yang dilakukan oleh petugas-petugas di sekolah tersebut.

Sungguh biadab orang-orang itu. Hukuman maksimal selama 5 tahun sangatlah kurang bagi mereka. Di wajah mereka harus ada stempel “Pelaku Pelecehan Seksual Kepada Anak-Anak” atau apalah yang menandakan mereka itu pernah melakukan perbuatan biadab sehingga orang di sekitarnya harus waspada. Atau kalau perlu kasih hukum kupas anggota tubuh, sedikit saja. Hhh maaf, kasus ini sungguh membuat saya ikut emosional.


Tersebarnya identitas sekolah membuat saya bertanya-tanya, etiskah hal itu dilakukan media? Saya membayangkan betapa tidak nyamannya pihak sekolah, semua siswa, dan semua orangtua siswa di sekolah itu menjadi bulan-bulanan di berbagai media selama berhari-hari. Mudah-mudahan saja identitas orangtua korban tidak sampai terbongkar. Justru identitas pelaku yang harus dibuka dan disebarkan, biar kapok dan orang lain yang punya penyakit moral yang sama juga kapok.

Selasa, 15 April 2014

Jangan Lagi Ada A Long – A Long Lain

Suatu hari di tahun 2010, seorang reporter meliput kehidupan seorang bocah lelaki berusia 6 tahun bernama A Long di rumahnya yang terpencil di atas bukit di Liuzhou, provinsi Guangxi, Cina.

Hidup A Long seterpencil rumahnya. Ia tinggal sendiri sepeninggal ayah dan ibunya. Seorang nenek yang dimilikinya hanya sesekali saja menengoknya dan memberikan makanan. Bila neneknya tak bertandang, A Long memasak sendiri makanannya.

Reporter itu menyaksikan A Long memasak makanannya berupa beras yang dimasak bersama sayur sawi tanpa garam, lalu menyantap makanan berbentuk bubur itu. A Long mengurus sendiri dirinya. Ia mencuci sendiri pakaiannya, bermain sendiri, dan tidur sendiri. Pintu rumahnya dibiarkan terbuka sepanjang hari agar teman setianya, satu-satunya temannya, Lao Hei – seekor anjing hitam bisa leluasa keluar-masuk rumah.

Senin, 14 April 2014

Menyuarakan Kebenaran dari Luar Negeri

Untuk blogger perempuan yang satu ini, saya angkat jempol tinggi-tinggi soal kekritisannya. Baca deh status-status dan tulisan-tulisan blognya: http://jihandavincka.wordpress.com/. Sepertinya semua tulisannya mencerminkan daya kritisnya. Status-statusnya di facebook bisa di-like sampai seratusan orang, dilengkapi komentar-komentar yang bisa berjumlah dua ratusan. Bermacam-macam komentar yang muncul, mulai dari yang memuji-muji sampai memaki-maki. Saya sampai berdebar-debar membacanya. Wiiiih.

Sebagian dari tulisan di wall-nya itu di-posting Jihan di blognya. Sebagian lagi tidak. Sebuah tulisannya pernah saya ulas sedikit dan saya jadikan sebuah posting-an blog ini, judulnya Perempuan, Mari Saling Melengkapi. Menariknya, di dalam tulisan itu, Jihan menyebut nama saya. Rasanya gimana gitu membacanya, seperti melambung karena jarang-jarang kan seseorang menulis dan menyebut nama saya di dalamnya J.

Ada satu tulisannya yang pingin sekali saya buatkan tulisan tapi sayang tulisan itu tidak tayang di blog saking kontroversialnya. Menurut saya statusnya wajar tapi buat sebagian orang yang fanatik pada hal yang dikritiknya, tidak demikian.

Jumat, 11 April 2014

Mal ke Mal dari Jendela Busway (2)

Tulisan ini merupakan kelanjutan dari tulisan sebelumnya

Perjalanan lancar. Sayangnya tak setiap hari seperti ini. Bila lalu-lintas macet, busway ikut pula terjebak macet. Dapat dimaklumi karena jalurnya belum eksklusif. Hanya sekadar berupa garis pembeda di atas jalan yang masih bebas dilalui kendaraan apa saja.

Dari Mal Panakukang, bis menyusuri Jalan Boulevard, bergerak ke arah barat lalu berbelok ke arah kanan di Jalan A. P. Pettarani, terus ke utara kemudian belok kiri di Jalan Urip Sumoharjo.

Bis bergerak lurus ke arah barat, menuju Jalan Gunung Bawakaraeng ke Jalan Jenderal Sudirman. Kata pak Arifuddin, ada perhentian di RS Pelamonia dan Lapangan Hasanuddin. Tapi bis tak berhenti karena tak ada siapa pun yang menunggu di sana.

Mal ke Mal dari Jendela Busway (1)

Pemandangan di dalam loket halte Losari
Sebenarnya saya tidak benar-benar niat hendak mengikuti tur kota naik busway bersama teman-teman Komunitas Blogger Anging Mammiri. Kepingin sih kepingin, tapi ndak yakin benar-benar mau pergi atau tidak.

Sampai pada harinya, pada tanggal 31 Maret menjelang pukul setengah sembilan pagi, suami saya bertanya lagi. “Bagaimana, mau pergi?” Masih setengah ragu tapi tetap kepingin, saya terdiam dulu beberapa saat. “Iya deh. Bagaimana kalau bawa Affiq dan Athifah, ya?”

Maka setelah berdiskusi, kami memutuskan bahwa saya akan membawa serta Affiq dan Athifah, mumpung sedang libur Nyepi.

***

Kamis, 10 April 2014

Pemimpin, Penulis, dan Proses

Membuka-buka sebuah buku, saya menemukan bahwa ada konsep pemimpin dan kepemimpinan yang bisa diterapkan oleh penulis dan siapa pun yang menyatakan dirinya serius untuk menulis:

"Walaupun benar bahwa ada orang yang dilahirkan dengan karunia alami yang lebih besar dari pada yang lain, kemampuan memimpin itu sesungguhnya merupakan kumpulan dari berbagai keterampilan, yang hampir seluruhnya dapat dipelajari serta ditingkatkan Namun prosesnya tidak terjadi dalam semalam. Kepemimpinan itu rumit. Aspeknya sangat banyak: kehormatan, pengalaman, kekuatan emosional, keterampilan membina hubungan dengan sesama, disiplin, visi, momentum, waktu --- dan seterusnya".

(
Dikutip dari halaman 65 yang membahas tentang Hukum Proses, Kepemimpinan Berkembang Setiap Hari, Bukan dalam Satu Hari, di buku 21 Hukum Kepemimpinan Sejati, karya John C. Maxwell)

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...