Selasa, 22 Juli 2014

Mencengangkannya Sistem dan Regulasi Kesehatan Kita

Judul             : Mereka Bicara Fakta – Wajah Sistem dan Regulasi Kesehatan Indonesia
Penulis
          : Susanti dkk
Penerbit        : Insist Press
Cetakan        : Pertama, Januari 2014
Tebal              :  xiv + 148 halaman
ISBN              : 978-602-8384-77-3
Ukuran          : 19 cm x 13 cm

Peristiwa mogok massal yang dilakukan para dokter menjelang penghujung tahun lalu dianggap sebagai ekses dari arogansi mereka. Masyarakat menjadi tak simpati karenanya. Hal ini menjadi sorotan dari beberapa penulis di dalam buku ini.

Lima belas penulis dari latar belakang yang beragam menuangkan fakta di sekitar mereka mengenai wajah sistem dan regulasi kesehatan di negara ini. Pengalaman menyenangkan dialami oleh Idrus bin Harun melalui JKA (Jaminan Kesehatan Aceh) yang dikeluarkan pemerintah setempat. Walaupun harus dioperasi, biaya yang dikeluarkannya minim sekali berkat JKA.

Senin, 21 Juli 2014

Pengumuman #HONESTLY Giveaway Nokia Lumia 1520

Yeaay alhamdulillah. Akhirnya keluar juga keputusan dari pihak sponsor mengenai nama-nama pemenang GA #Honestly Tahu Lebih Cepat. Mohon maaf ya teman-teman yang sudah menunggu-nunggu pengumuman ini. Sungguh di luar dugaan pengumumannya bisa molor sampai 3 hari. Psst, pihak sponsor agak kesulitan menentukan siapa penerima cincinnya.

Okeh, tidak berpanjang-panjang lagi.

Terima kasih sebelumnya kepada teman-teman yang sudah mengikuti GA saya. Jumlah pesertanya tidak banyak walau usaha saya menyebar-nyebar link sudah maksimal. Ada lebih 1.000 page views yang masuk ke postingan saya tentang pengumuman GA namun persyaratannya membuat sebagian besar mundur.

Weh, masih berpanjangan ini ya hehehe.

Baiklah, ini dia nama-nama pemenangnya:

Sabtu, 19 Juli 2014

Jadilah Pengendali Mood

Baru kali ini menyimak secara langsung suka-duka karir Asma Nadia.

Saat ditanya oleh salah seorang audiens tentang kiat menulisnya, apakah ada pelatihannya, Asma Nadia menceritakan tentang pelatihan menulisnya (hm kayaknya kudu bayar ya? he he he), harus banyak membaca, dan ia juga mengatakan perlunya mengikuti komunitas menulis.

Dimulai dari seorang anak yang sakit-sakitan, kekurangan harta tapi selalu berlimpah kasih sayang dari sang Mami dan Papa, Asma Nadia tumbuh menjadi pribadi pembelajar. Penyakit menghalanginya untuk menyelesaikan pendidikan tinggi tetapi passion menulis membuatnya seterkenal
dan seproduktif sekarang. 

Asyiknya bekerja dalam bidang yang disukai adalah seperti tak bekerja. Ehm, kayak saya ini contohnya
(kedip-kedip), mau dibilang freelance oke, hobi juga oke. Mau menulis saat senang ayo, mau menulis di saat sedang susah ayo juga.

Kamis, 17 Juli 2014

Yang Itu Betina, Saya Tahu!

Poor chicken.

Sepertinya dia mengira sedang berbaring dalam dekapan
hangat ibunya. Anak ayam berbulu hijau itu terlihat sangat nyaman di telapak tangan Athifah. Anak ayam itu sebenarnya proyek kesewenang-wenangan orang yang mengatasnamakan kebutuhan hidup. Demi mencari sesuap nasi, ia tega mencelup badan anak ayam yang baru lahir ke dalam cat. 

Athifah excited sekali ketika minggu lalu Ato' (kakek) membawa pulang 5 ekor anak ayam warna-warni. Tiap hari dia menyempatkan diri menengok anak-anak ayam itu, tentu saja sambil memegang dan mengelus-elus mereka.

Athifah yakin sekali mana anak ayam jantan dan mana yang betina.

Rabu, 16 Juli 2014

Semangat Berbagi di Setia Karya

Saya senang kembali ke tempat itu. Senang bisa berbincang kembali dengan bu Rini. Senang bisa melihat anak-anak di panti asuhan Setia Karya itu terlihat ceria, seolah mereka tak punya beban hidup apapun padahal di mata kita, merekalah segelintir dari anak-anak yang paling menderita di dunia.

Bagaimana tidak menderita kalau mereka nyaris tak mengenal ayah dan ibu kandung mereka? Beberapa di antara mereka bahkan resmi menjadi penghuni panti di saat usia mereka masih dalam hitungan hari! Hubungan gelap yang dilakukan para mahasiswa yang seharusnya menjadi orang tua mereka dijadikan alasan pembenaran untuk meninggalkan mereka di panti itu.

Bu Rini yang menceritakannya kepada saya. Ia adalah salah satu dari 12 anak pendiri panti asuhan Setia Karya. Enam orang dari mereka tinggal di area panti, mengurusi panti yang beranggotakan 65 anak yatim/piatu/ terlantar ini.

Minggu, 13 Juli 2014

Berdagang di Panyingkul

Baru tahun ini panyingkul[1] depan masjid dijadikan tempat berjualan penganan berbuka puasa oleh Minda. Untuk membantu ekonomi keluarga, alasannya.

Perempuan tangguh seperti Minda banyak di sekitar saya. Dua hari yang lalu, Ela menemaninya di situ tetapi ia berjualan seprei cicilan.

“Lima belas ribu per bulan, Kak Niar. Sampai lunas seratus tujuh puluh ribu,” tawar Ela.

“Berapa kontannya?”

Ndak tau,” Ela mengedikkan bahu karena ia hanya “re-seller” penjualan secara kredit.

***

Sabtu, 12 Juli 2014

Sebarkan yang Benar, Singkirkan Stigma Negatif

Saking berbahayanya TB (tuberkulosis), penyakit ini sampai mengundang stigma-stigmanegatif berdatangan kepada penderitanya. Tak tanggung-tanggung, namanya stigma negatif jadinya melenceng dari pengertian penyakit itu sendiri.


1.Guna-guna atau penyait kutukan

Karena ada pasien TB yang mengalami batuk berdarah, sebagian masyarakat menganggapnya sebagai guna-guna atau penyakit kutukan. Penderitanya dianggap telah melakukan hal buruk yang berdampak seperti itu padanya.

Yang benar adalah: batuk berdarah terjadi karena pecahnya pembuluh darah yang dalam paru-paru akibat terinfeksi kuman TB pada saat batuk. Darah yang keluar berwarna merah segar dan dapat terjadi jarang atau sering ditentukan dengan luasnya infeksi kuman TB yang terjadi pada paru-paru pasien.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...