Selasa, 22 April 2014

Perempuan Menulis, demi Keabadian

Dalam tulisan yang dimuat di Harian Fajar pada Hari Kartini ini, saya menulis tentang Kartini, tentang Colli' Pujie - pahlawan aksara Bugis, tentang makna menulis bagi perempuan, juga memperkenalkan KEB dan IIDN. Mudah-mudahan makin membuka mata perempuan Sulawesi Selatan tentang menulis.

Untuk semua perempuan Indonesia ... Selamat Hari Kartini.

Menulis membuat Kartini abadi. Perempuan Jawa penggemar membaca ini menuangkan kritik dan pandangan-pandangannya tentang kesetaraan gender, sosial, budaya, agama, bahkan korupsi melalui surat-surat kepada kawan-kawannya di Eropa.

Tuan J.H. Abendanon menyusun surat-surat Kartini. Ia membukukannya ke dalam bahasa Belanda pada tahun 1911, tujuh tahun setelah Kartini wafat pada usia 25 tahun. Buku itu terbit dengan judul Door Duisternis tot Licht yang berarti "Dari Kegelapan Menuju Cahaya". Buah pikiran Kartini itu kemudian mengubah pandangan masyarakat Belanda terhadap perempuan pribumi di Jawa di masa itu.

Yuk, Merajut Proses

Melihat aktifitas menulis yang saya lakoni, ayah saya berkata bahwa saya "salah jurusan" dulu memilih kuliah di Fakultas Teknik UNHAS.

Saya tertawa dan mengatakan "tidak". Karena proseslah yang mengantarkan saya hingga mempunyai karakter dan gaya menulis seperti sekarang. Peran aktif di lembaga kemahasiswaan dulu (HME - Himpunan Mahasiswa Elektro UNHAS) membuat saya, sejak mahasiswa hingga sekarang tertarik pada bidang-bidang Pengembangan Diri, Psikologi Populer, dan Pendidikan Praktis. Apakah itu sebuah kesalahan? Tidak. Tidak sama sekali. 

Jujur, walau tertawa saya agak sedih. Mudah-mudahan ini hanya lontaran ringan saja dari beliau, bukan karena menutupi kekecewaannya karena anaknya tak jadi engineer.

Minggu, 20 April 2014

Bahagianya Beramal Bersama Setia Karya

“Terima kasih, Bu,” ujar bu Rini seraya tersenyum.

“Ibu bawakan jilbab baru padahal saya bilang yang bekas mo saja,” lanjutnya lagi dengan semringah.

“Ada yang kasih, Bu,” saya membalas tersenyum, bahagia sudah menjadi penyampai amal ke panti asuhan Setia Karya itu.

Saya ke panti itu pada tanggal 3 April lalu untuk menyampaikan bantuan dari beberapa dermawan. Tulisan saya yang berjudul Masih Setia Berkarya mendapat tanggapan dari mereka berupa bantuan aneka jilbab dan pakaian layak pakai kepada anak-anak panti asuhan Setia Karya. Seseorang mengirimkan uang untuk dibelikan aneka jilbab dan sebagiannya lagi disumbangkan dalam bentuk uang.

Kamis, 17 April 2014

Belajar dari Anak-Anak Itu

Judul buku:
A Long: Kisah Pilu Bocah 6 Tahun
Yang Hidup Sendirian di China
Penulis: Alvin Bintang
ISBN: 978-979-1166-24-9
Penerbit: Amazing
Ketebalan: 168 halaman
Ukuran buku: 22 cm x 17 cm
Tahun terbit: Maret 2013

Dan inilah hasil masakan A Long hari itu: bubur dengan sayur sawi. Masakan sederhana tanpa aneka bumbu. Bahkan juga tak bergaram. Hanya direbus. Pun tak ditumis dengan minyak goreng.

Tidakkah kita merasa malu? Seringkali kita mengeluh karena lauk di rumah tak menggugah selera. Entah karena rasanya kurang enak atau lauk yang disajikan bukan yang kita harapkan?

Dua paragraf yang terletak pada halaman 31 buku ini begitu menampar. Tanpa dituliskan seperti itu pun, keenambelas kisah anak kurang beruntung dalam buku ini seolah-olah menampar-nampar pembacanya.

Koq Takut?

Dulu saya pikir, anak-anak itu menjadi penakut karena kita mengajarkannya menjadi penakut. Misalnya banyak orang yang suka menakut-nakuti anak-anak mereka dengan "Awas, ada setan!" atau menakut-nakuti mereka dengan figur orang dewasa lain yang penampilannya menyeramkan bagi anak-anak, dan lain-lain.

Saya dan suami tak pernah mengajarkan anak
-anak kami menjadi penakut dengan menakut-nakuti mereka. Affiq minta pisah kamar di usia 6 tahun dan ia tak pernah minta ditemani pada malam hari dengan alasan “takut”. Berbeda dengan seorang kerabat yang usianya hanya lebih tua setahun dari Affiq. Dengan badan yang tinggi besar karena suka bermain bola, ia masih saja “takut dengan setan”. Bagaimana tidak, dalam lingkungannya, orang-orang dewasa terbiasa menakut-nakuti anak-anak supaya patuh.

Yang mengherankan si tengah Athifah, koq dia penakut sekali? Sedikit-sedikit takut. Kalau mau ke ruang makan pada malam hari, takut, minta ditemani. Ke kamar mandi juga takut katanya. 

Rabu, 16 April 2014

Awasi WC Sekolah, Stop Kekerasan Pada Anak!

Perhatian Indonesia sedang mengarah kepada sebuah taman kanak-kanak internasional yang seorang siswanya mengalami pelecehan seksual yang dilakukan oleh petugas-petugas di sekolah tersebut.

Sungguh biadab orang-orang itu. Hukuman maksimal selama 5 tahun sangatlah kurang bagi mereka. Di wajah mereka harus ada stempel “Pelaku Pelecehan Seksual Kepada Anak-Anak” atau apalah yang menandakan mereka itu pernah melakukan perbuatan biadab sehingga orang di sekitarnya harus waspada. Atau kalau perlu kasih hukum kupas anggota tubuh, sedikit saja. Hhh maaf, kasus ini sungguh membuat saya ikut emosional.


Tersebarnya identitas sekolah membuat saya bertanya-tanya, etiskah hal itu dilakukan media? Saya membayangkan betapa tidak nyamannya pihak sekolah, semua siswa, dan semua orangtua siswa di sekolah itu menjadi bulan-bulanan di berbagai media selama berhari-hari. Mudah-mudahan saja identitas orangtua korban tidak sampai terbongkar. Justru identitas pelaku yang harus dibuka dan disebarkan, biar kapok dan orang lain yang punya penyakit moral yang sama juga kapok.

Selasa, 15 April 2014

Jangan Lagi Ada A Long – A Long Lain

Suatu hari di tahun 2010, seorang reporter meliput kehidupan seorang bocah lelaki berusia 6 tahun bernama A Long di rumahnya yang terpencil di atas bukit di Liuzhou, provinsi Guangxi, Cina.

Hidup A Long seterpencil rumahnya. Ia tinggal sendiri sepeninggal ayah dan ibunya. Seorang nenek yang dimilikinya hanya sesekali saja menengoknya dan memberikan makanan. Bila neneknya tak bertandang, A Long memasak sendiri makanannya.

Reporter itu menyaksikan A Long memasak makanannya berupa beras yang dimasak bersama sayur sawi tanpa garam, lalu menyantap makanan berbentuk bubur itu. A Long mengurus sendiri dirinya. Ia mencuci sendiri pakaiannya, bermain sendiri, dan tidur sendiri. Pintu rumahnya dibiarkan terbuka sepanjang hari agar teman setianya, satu-satunya temannya, Lao Hei – seekor anjing hitam bisa leluasa keluar-masuk rumah.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...